2. Pengertian Akhlak menurut Istilah

Juni 24, 2010

       Dilihat dari segi terminologi “ Akhlak “ (أَخْلاَقٌ  ) terdapat beberapa pakar yang berpendapat antara lain :

a. Abu Ali Ibnu Muhammad Ibnu Ya’qub Miskawaih :

 حَالُ لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَهَا اِلَى اَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَلاَرُوِيَةٍ 

 Artinya : “ Akhlak ialah keadaan gerak jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pemikiran terlebih dahulu “ [1].

 b. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali :

اَلْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةً عَنْهَا تَصْدُرُ     الاْ َفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ اِلَى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ

Artinya : “ Suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran “[2].  

 c. Ibrahim Anis :

حَالُ لِلنَّفْسِ رَاسِخَةُ تَصْدُرُ عَنْهَا الاَعْمَالُ مِنْ خَيْرٍ اَوْ شَرِّ حَاجَةٍ اِلَى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ

Artinya : “ Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang melahirkan bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan “[3].

 d. Ahmad Amin :

عَرَّفَ بَعْضُهُمْ الْخُلُقَ بِأَنَّهُ عَادَةُ الاِْرَادَةِ يَعْنِى أَنَّ الاِْرَادَةَ اِذَا اِعْتَادَتْ شَيْأً فَعَادَتُهَا هِيَى الْمُسَمَّاةُ بِالْخُلُقِ

Artinya : “ Sementara orang membuat definisi akhlaq, bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak “[4].

 e. Al-Qurthuby :

مَاهُوَ يَأْخُذُبِهِ الاِْنْسَانُ نَفْسُهُ مِنَالاْ َدَبِ يُسَمَّى خُلُقًا, لأَِنَّهُ يَصِيْرُ مِنَ الْخِلْقَةِ فِيْهِ             

Artinya : “ Suatu perbuatan manusia yang bersumber dari        adab-kesopanannya disebut akhlak, karena perbuatan termasuk bagian dari kejadiannya “[5].

f. Muhammad bin I’laan Ash Shodieqy

اَلْخَلْقُ مَلَكَةٌ بِالنَّفْسِ يَقْتَدِرُ بِهَا عَلَى صُدُوْرِ الأُفْعَالِ الْجَمِيْلَةِ بِسُهُوْلَةٍ

Artinya : “ Akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik, dengan cara yang mudah ( tanpa dorongan dari orang lain ) “[6].

g. Muhammad Abdullah Dirros :

“ Akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar ( dalam hal akhlak yang baik ) atau pihak yang jahat ( akhlak yang jahat ) “ . Selanjutnya perbuatan-perbutan manusia yang dapat dianggap sebagai manifestasi dari akhlaknya, apabila dipenuhi dengan dua syarat, yaitu :

Pertama, Perbuatan-perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama, sehingga menjadi kebiasaan.

Kedua, Perbuatan-perbuatan itu dilakukan karena dorongan    emosi-emosi jiwanya, bukan karena adanya tekanan-tekanan yang dating dari luar seperti paksaan dari orang lain sehingga menimbulkan ketakutan, atau bujukan dengan harapan-harapan yang indah-indah danlain sebagainya[7].  

Dalam perkembangan selanjutnya akhlak tumbuh menjadi suatu ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, yaitu ilmu yang memiliki ruang lingkup pokok bahasan, tujuan, rujukan, aliran dan para tokoh yang mengembangkannya. Kesemua aspek yang terkandung dalam akhlak ini kemudian membentuk suatu kesatuan yang saling berhubungan dan membentuk suatu ilmu.

Berkenaan dengan ilmu akhlak ini terdapat beberapa definisi oleh para ahli antara lain sebagai berikut :

1 . Ibrahim Anis :

اَلْعِلْمُ مَوْضُوْعَةُ اَحْكَامُ قِيْمَتُهُ تَتَعَلَّقُ بِهِ الاَعْمَالُ الَّتِى تُوْصَفُ بِالْحَسَنِ وَالْقُبْحِ

Arinya : “ Ilmu yang obyek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat di sifatkan dengan baik dan buruk “[8].

2 . Abd. al-Hamid Yunus :

اَلْعِلْمُ بِالفَضَائِلِ وَكَيْفِيْفِيَةِ اِقْتِنَائِهَا لِتتَتَحَلَّى النَّفْسً بِهَا وَبِاارَّذَائِلِ وَكَيْفِيْفِيَةِ تَوْقِيْهَا لِتتَتَحَلَّى عَنْهَا

Artinya : “ Ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan cara mengikutinya hingga jiwa terisi dengannya dan tentang keburukan dan cara menghindarinya hingga jiwa kosong dari padnya “[9].

3 . Rachmat Djatnika :

Ilmu akhlak mengandung hal-hal sebagai berikut :

1. Menjelaskan pengertian “ baik dan buruk “ .

2. Menerangkan apa yang harus dilakukan oleh seseorang atau sebagian manusia terhadap sebagian yang lainnya.

3. Menjelaskan tujuan yang sepatutnya dicapai oleh manusia dengan perbuatan-perbuatan manusia itu.

4. Menerangkan jalan yang harus dilalui untuk berbuat[10].

 4 . Barmawie Umary :

Ilmu akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia, lahir dan batin[11].

        Dari definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah tabiat, sifat seseorang atau perbuatan manusia yang bersumber dari dorongan jiwanya yang sudah terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar sudah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan serta di angan-angan lagi. Maka dari itu  gerakan refleks, denyut jantung dan kedipan mata itu tidak dapat disebut sebagai akhlak, karena gerakan tersebut tidak diperintah oleh unsur kejiwaan. Sebab akhlak merupakan           ” kehendak ” dan ” kebiasaan ” manusia yang menimbulkan kekuatan-kekuatan yang sangat besar untuk melakukan sesuatu. Kehendak merupakan keinginan yang ada pada diri manusia setelah dibimbing, dan kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah untuk melakukannya. Oleh karena itu faktor kehendak atau kemauan memegang peranan yang sangat penting sebab dengan adanya kehendak tersebut telah menunjukkan adanya unsur ikhtiar dan kebebasan, yang karenanya dapat disebut dengan ” akhlak ”[12].

Maksud dengan sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan serta di angan-angan lagi, disini bukan berarti bahwa perbuatan tersebut dilakukan dengan tidak sengaja atau tidak di kehendaki. Maka perbuatan-perbuatan yang dilakukan itu benar-benar sudah merupakan ” azimah ” yakni kemauan yang kuat tentang sesuatu perbuatan, oleh karenanya jelas bahwa perbuatan itu memang sengaja di kehendaki adanya.  Hanya saja keadaan yang demikian ini dikakukan secara kontinyu, sehingga sudah menjadi adat / kebiasaan untuk melakukannya, karenanya timbullah perbuatan itu dengan mudah tanpa difikirkan lagi, begitu juga karena bentuknya tidak kelihatan sehingga dapat dikatakan bahwa “ Akhlak “ (   أَخْلاَقٌ) adalah nafsiah ( bersifat kejiwaan ) atau maknawiyah ( sesuatu yang abstrak ), sedangkan bentuknya yang kelihatan dinamakan mu’amalah ( tindakan ) atau suluk                         ( prilaku ) maka dari itu bentuknya akhlak adalah sumber dan prilaku tersebut.

Dengan demikian secara substansial bahwa perbuatan yang termasuk akhlak mempunyai lima ciri antara lain :

1. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadian.

2. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.

3. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.

4. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara, seperti dalam film.

5. Sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak ( khusus akhlak yang           baik ) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah Swt, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan sesuatu pujian [13].

 


[1] . Abu Ali Ibnu Muhammad Ibnu Ya’qub Miskawaih ( 1934 ). Tahdzib                al-Akhlaq wa Tathhir al-A’raq, Mesir : al-Mathba’ah al-Misriyah, hal : 40

[2] . Abu Hamid Muhammad al-Ghozali ( t.t ). Ikhya’ Ulumuddin, III, Bairut : Darul Fikr, hal : 56.

[3] . Ibrahim Anis ( 1972 ). al-Mu’jam al-Wasith, Mesir : Dar al-Ma’arif,                 hal : 202.

[4] . Ahmad Amin ( 1967 ). Kitab al-Akhlaq, Kairo : an-Nahdlah al-Misriyah,           hal : 50.

[5] . al-Qurtuby ( 1913 ). Tafsir al-Qurtuby, Juz VIII, Kairo : Daarus Sya’by,             hal : 6706.

[6] . Muhammad bin Ilaan Ash-Shiddiqy ( 1971 ). Dalilul Faalikhin, Juz III, Mesir : Mustofa al-Babil al-Halaby, hal : 76.

[7] . Humaidi Tatapangarsa ( 1979 ). Pengantar Kuliah Akhlak, Surabaya : Bina Ilmu, hal : 10.

[8] . Ibrahim Anis ( 1972 ). Op.cit, hal : 202.

[9] . Abd. Hamid Yunus ( T.th ). Op. cit, hal : 436-437.

[10] . Rachmat Djatnika ( 1992 ). Sistem Ethika Islam ( Akhlak Mulia ), Jakarta : Pustaka Panji Masyarakat, hal : 31.

[11] . Barmawie Umary ( 1991 ). Materia Akhlak, Solo : Romadhani, hal : 1.

[12] . M. Zein Yusuf ( 1993 ). Akhlak Tasawuf, Semarang : al-Husnah, hal : 7.

[13] . Abuddin Nata ( 2006 ). Akhlak Tasawuf, Jakarta : Raja Grafindo Persada,  hal : 4-6.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: