2. Ilmu kalam

Juni 28, 2010

2. Hubungan antara Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf

     A. Titik Persamaan :

         Dalam ilmu Kalam, filsafat Filsafat[1] dan Tasawwuf mempunyai kesamaan obyek kajian. Obyek kajian “ Ilmu Kalamadalah Ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan Nya. Sedangkan obyek kajian “ Filsafat “ adalah masalah-masalah Ketuhanan di samping masalah alam, manusia dan segala sesuatu yang ada[2]. Sementara itu obyek kajian “ Tasawwuf “ adalah Tuhan yakni upaya-upaya pendekatan terhadap Nya. Jadi bila dilhat dari aspek obyeknya ketiga ilmu tersebut diatas membahas masalah yang berkaitan dengan  “ Ketuhanan[3] .

          Argumentasi Filsafat-sebagaimana Ilmu Kalam-dibangun diatas logika. Oleh karena itu, hasil kajiannya bersifat “ Spekulatif “ ( tidak dapat dibuktikan secara empiris, reaserch dan eksperimen )[4]. Kerelatifan hasil karya logika itu menyebabkan beragamnya kebenaran yang dihasilkannya.

          Baik Ilmu Kalam, Filsafat maupun Tasawwuf berusaha dengan hal yang sama yaitu kebenaran. “ Ilmu Kalam “ dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan dengan Nya. “ Filsafat “ dengan wataknya sendiri pula berusaha menghampiri kebenaran baik tentang alam maupun manusia ( yang belum atau tidak dapat di jangkau oleh ilmu pengetahuan karena berada diluar atau diatas jangkauan nya ) atau tentang Tuhan. Sementara “ Tasawwuf “ juga dengan metode nya yang tipikal berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.  

     B. Titik Perbedaan :

          Perbedaan diantara ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek “ metodologinya “ ; “ Ilmu Kalam “ sebagai ilmu yang menggunakan logika di samping argumentasi-argumentasi naqliyah berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama yang sangat tampak nilai-nilai apologinya.

          Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika  ( jadaliah ) dikenal dengan istilah “ dialog keagamaan “ . Oleh karena sebagai sebuah dialog keagamaan maka Ilmu Kalam ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argument-argumen rational. Sebagian ilmuwan bahkan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran agama serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rational[5].

          Sementara itu “ Filsafat “ adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rational, metode yang digunakan nya pun adalah metode rational. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan           ( mengembarakan atau mengelanakan )  akal budi secara radikal ( mengakar ) dan integral ( menyeluruh ) serta universal ( mengalam ) tidak merasa terikat oleh ikatan apapun terkecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bernama “ logika[6].

          Dengan demikian peranan filsafat sebagaimana yang di katakana oleh Sockrates adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep ( the gaining of conceptual clarity ).

          Berkenaan dengan keberagamaan kebenaran yang dihasilkan oleh kerja logika maka dalam filsafat dikenal apa yang disebut “ Kebenaran Korespondensi “ . Dalam pandangan “ Kebenaran Korespondensi “ bahwa  “ kebenaran “ adalah persesuaian antara pernyataan fakta dan data itu sendiri atau dengan bahasa yang sangat sederhana bahwa “ kebenaran “ adalah persesuaian antara apa yang ada di dalam ratio dengan kenyataan sebenarnya di alam nyata[7]. Di samping kebenaran korespondensi, di dalam filsafat juga di kenal kebenaran ” koherensi ”. Dalam pandangan koherensi, kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan sesuatu pertimbangan yang telah dilakukan kebenarannya secara umum dan permanen. Jadi kebenaran di anggap tidak benar kalau tidak sesuai dengan kebenaran yang dianggap benar oleh ulama umum[8].

           Di samping dua macam kebenaran tersebut di atas, di dalam filsafat dikenal juga kebenaran ” pragmatik ” [9]. Dalam pandangan pragmatisme, kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat ( utility ) dan mungkin dapat di kerjakan ( workability ) dengan dampak yang memuaskan. Jadi, sesuatu itu akan di anggap tidak benar kalau tidak tampak manfaatnya secara nyata dan sulit untuk di kerjakan.

          Adapun “ Ilmu Tasawwuf  “ adalah ilmu yang lebih menekankan rasa dari pada ratio oleh sebab itu Filsafat dan Tasawwuf sangat distingtif  ( berbeda ). Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, Ilmu Tasawwuf bersifat subyektif yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Itulah sebabnya bahasa Tasawwuf sering tampak aneh bila dilihat dari aspek ratio, karena hal ini pengalaman rasa sangat sulit dibahasakan. Pengalaman rasa lebih mudah dirasakan langsung oleh orang yang ingin memperoleh kebenarannya dan mudah di gambarkan dengan bahasa lambang sehingga sangat interpretable ( dapat di interpretasikan bermacam-macam ).

           Ada sebagian pakar yang mengatakan bahwa metode Ilmu Tasawwuf adalah intuisi atau ilham atau inspirasi yang datang dari Tuhan. Kebenaran yang dihasilkan Ilmu Tasawwuf di kenal dengan istilah “ Kebenaran Hudhuri[10] , yaitu suatu kebenaran yang obyeknya datang dari dalam diri subyek sendiri. Itulah sebabnya dalam sains dikenal istilah obyek “ Swa “ atau “ obyeknya tidak obyektif “ . Ilmu seperti ini dalam sains dikenal dengan “ ilmu yang diketahui bersama “ atau “ Tacit Knowledge “ dan bukan ilmu professional.

          Di dalam pertumbuhannya Ilmu Kalam ( teologi ) berkembang menjadi “ teologi rational[11] dan “ teologi tradisional[12]. Filsafat berkembang menjadi “ sains “ dan “ filsafat “  itu sendiri, “ sains “ berkembang menjadi kealaman, sosial dan humaniora; Sedangkan “ filsafat “ berkembang lagi menjadi filsafat klasik, pengetahuan dan filsafat modern. Tasawwuf selanjutnya berkembang menjadi “ tasawwuf praktis[13] dan “ tasawwuf teoritis[14].

          Jika dilihat dari aspek aksiologi ( manfaatnya ) teologi diantaranya berperan sebagai ilmu yang mengajak orang baru untuk mengenal ratio sebagai upaya mengenal Tuhan secara rational. Adapun filsafat lebih berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai ratio secara prima untuk mengenal Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistem nya langsung. Adapun tasawwuf lebih berperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rationya secara bebas karena tidak memperoleh apa yang ingin dicarinya.

          Bahkan sebagian orang memandang bahwa ketiga ilmu tersebut diatas itu memiliki jenjang tertentu, yang pertama adalah “ Ilmu Kalam “ kemudian “ Filsafat “ dan yang terakhir adalah “ Ilmu Tasawwuf “ . Oleh sebab itu merupakan suatu kekeliruan apabila dialektika kefilsafatan atau tasawwuf teoritis diperkenalkan kepada masyarakat awam karena akan berdampak pada terjadinya “ rational jumping “ ( lompatan pemikiran ).

      C. Titik Singgung antara Ilmu Kalam dan Ilmu Tasawwuf :

          Ilmu Kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan-persoalan Kalam ini biasanya mengarah pada perbincangan yang mendalam dengan                dasar-dasar argumentasi baik rational ( aqliyah ) maupun naqliyah.

          Argumentasi rational ( aqliyah ) yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil al-Qur’an dan Hadits.

          Ilmu Kalam sering menempatkan diri nya pada kedua pendekatan ini ( aqli dan naqli ) suatu metode argumentasi yang dialektik, jika pembicaraan Ilmu Kalam ini hanya berkisar pada keyakinan-keyakinan yang harus dipegang oleh umat Islam tanpa argumentasi rational, ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan istilah Ilmu Taukhid atau Ilmu Aqo’id.

          Pembicaraan materi yang tercakup dalam Ilmu Kalam terkesan tidak menyentuh dzauq ( rasa rohani ), sebagai contoh Ilmu Taukhid menerangkan bahwa Allah Swt itu bersifat Sama’ ( mendengar ), Bashor ( melihat ), Kalam       ( berbicara ), Irodah ( berkemauan ), Qudrat ( kuasa ), Hayat ( hidup ) dan sebagainya. Namun, Ilmu Kalam atau Ilmu taukhid tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah Swt mendengar dan melihat nya; Bagaimana pula perasaan hati seseorang ketika membaca al-Qur’an; Dan bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari Qudrah ( kekuasaan ) Allah Swt ?.

          Pertanyaan ini sulit terjawab apabila melandaskan diri pada Ilmu Taukhid atas Ilmu Kalam. Biasanya yang membicarakan tentang penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah Ilmu Tasawwuf. Disiplin inilah yang membahas bagaimana merasakan nilai-nilai aqidah dengan memperhatikan bahwa persoalan tadzawwuq ( bagaimana merasakan ) tidak saja termasuk dalam lingkup hal yang sunnah atau dianjurkan tetapi justru termasuk hal yang diwajibkan.

          As-sunnah memberikan perhatian yang begitu besar terhadap masalah tadzawwuq. Ini tampak pada hadits Rosulullah Saw yang diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dikutip dari Said Hawwa artinya sebagai berikut :  ” Yang merasakan iman adalah orang yang ridha kepada Allah Swt sebagai Tuhan, ridha kepada Islam sebagai agama, dan ridha kepada Muhammad sebagai Rasul[15]  . Dalam hadit lain Rosulullah Saw pun pernah mengucapkan : ” Ada tiga perkara yang mengakibatkan seseorang dapat merasakan lezatnya   iman : Orang yang mencintai Allah Swt dan Rosul Nya lebih dari yang lain ; Orang yang mencintai hamba karena Allah Swt ; dan orang yang takut kembali kepada kekufuran, seperti ketakutannya untuk di masukkan ke dalam api neraka ”.

          Pada Ilmu Kalam ditemukan pembahasan Iman dan definisinya, kekafiran dan manifestasinya serta kemunafikan dan batasannya. Adapun pada ilmu tasawwuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, serta upaya menyelamatkan diri dari kemunafikan. Tidaklah cukup bagi seseorang yang hanya mengetahui batasan-batasan kemunafikan pun tetap saja melaksanakannya. Sebagaimana Allah Swt berfirman surat al-Hujurat ( 49 ) ayat 14 yang berbunyi :

قَالَتِ الاْ َعْرَابُ اَمَنَّا قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلَكِنْ قُوْلُوْا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلُ الاْ ِيْمَنُ فِى قُلُوْبِكُمْ وَاِنْتُطِيْعُوْا اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ لاَيَلْتِكُمْ مِّنْ اَعْمَلِكُمْ شَيْئًا اِنَّ اللَّهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Artinya : Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami Telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami Telah tunduk’, Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” [16].

 

          Ath-Thabari dalam kitab al-Kabir meriwayatkan Hadits shahih dari Ibnu Umar ra Ia berkata : yang artinya :

 ” Pada suatu hari saya bersama-sama dengan Nabi Saw. Beliau di datangi oleh Hurmalah bin Zaid. Ia duduk di hadapan Nabi Saw seraya berkata : Wahai Rasulullah Saw, iman itu di sini ( seraya menunjukkan ke dadanya ). Kami tidak pernah mengingat Allah Swt, kecuali sedikit. Rasulullah Saw mendiamkannya, maka Hurmalah mengulangi ucapannya tadi, lalu Rasulullah Saw memegang Hurmalah seraya berdo’a : Ya Allah jadikanlah untuknya lisan yang jujur dan hati yang bersyukur, kemudian jadikan dia mencintai orang yang cinta kepadaku, dan jadikanlah urusannya baik. Kemudian Hurmalah berkata : Wahai Rasulullah Saw aku mempunyai banyak teman yang munafik, dan aku adalah pemimpin mereka, tidaklah aku akan memberi tahu nama-nama mereka kepadamu ?. Rasulullah Saw menjawab : Siapa yang datang kepada kami, kami akan mengampuninya sebagaimana kami mengampunimu, dan siapa yang berketetapan hati untuk melaksanakan agamanya, maka Allah Swt lebih utama baginya, janganlah menembus tirai ( hati ) seseorang[17].

          Dalam kaitannya dengan Ilmu Kalam, Ilmu Tasawwuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang  mendalam lewat hati ( dzauq dan wijan ) terhadap Ilmu Taukhid atau                  Ilmu Kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam prilaku. Dengan demikian, Ilmu Tasawwuf merupakan penyempurna Ilmu Taukhid jika dilihat bahwa Ilmu Tasawwuf merupakan sisi terapan rohaniah dari Ilmu Taukhid.

          Ilmu Kalam pun berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf, oleh karena itu jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan aqidah atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan al-Qur’an dan As-sunnah, hal  itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah di riwayatkan dalam            al-Qur’an dan As-sunnah atau belum pernah di riwayatkan oleh ulama-ulama salaf, hal itu harus di tolak.

          Selain itu, Ilmu Tasawuf mempunyai fungsi sdebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa Ilmu Kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional di samping muatan naqliyah. Jika tidak di imbangi oleh kesadaran rohaniah, Ilmu kalam dapat bergerak ke arah lebih liberal dan bebas. Di sinilah Ilmu Tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga Ilmu Kalam itu tidak terkesan sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qalbiyah ( hati ). 

          Bahkan amalan-amalan Tasawuf itu mempunyai pengaruh yang sangat besar sekali dalam ketaukhidan. Jika rasa sabar itu sudah tidak ada, umpamanya, maka muncullah ke kufuran. Jika rasa syukurnya itu sedikit, maka lahirlah suatu bentuk kegelapan sebagai reaksi. Begitu juga Ilmu taukhid dapat memberikan kontribusi kepada Ilmu Tasawuf. Sebagai contoh, jika cahaya Taukhid telah lenyap maka akan timbul penyakit-penyakit qalbu, seperti ujub, congkak, riya’ , dengki, hasut dan sombong. Seandainya manusia itu menyadari  bahwa Allah Swt yang memberi segala sesuatu itu, niscaya rasa hasud dan dengki itu akan sirna. Kalau saja dia tahu akan kedudukan penghambaan diri, niscaya tidak akan ada rasa sombong. Kalau saja manusia itu menyadari bahwa dia    betul-betul sebagai hamba Allah Swt, niscaya tidak akan ada perebutan kekuasaan. Kalau saja manusia itu menyadari bahwa Allah Swt yang menciptakan segala sesuatu itu, niscaya tidak akan ada sifat ujub dan riya’. Maka dari sinilah dapat di lihat bahwa Ilmu taukhid itu merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju Allah Swt ( pendakian para kaum sufi ).     

          Untuk melihat lebih lanjut hubungan antara Ilmu Tasawwuf dan Ilmu Taukhid alangkah baiknya menengok paparan Imam Al-Ghozali dalam Kitabnya : “ Al-Maqhad al-Asna fi Syarah al-Asma Allah al-Husna “ , dimana Imam al-Ghozali telah menjelaskan dengan baik persoalan-persoalan taukhid kepada Allah Swt, terutama ketika menjelaskan nama-nama Allah Swt, materi pokok Ilmu Taukhid. Menurutnya nama Tuhan Ar-Rahman dan Ar-Rokhim pada aplikasi rohaniah nya merupakan sebuah sifat yang harus diteladani. Jika sifat   Ar-Rahman itu di aplikasikan seseorang akan memandang bahwa orang durhaka dengan kelembutan bukan kekasaran; melihat orang dengan mata Ar-Rokhim bukan dengan mata yang hina, bahkan ia mencurahkan ke-rakhim-an nya kepada orang yang durhaka agar dapat diselamatkan. Jika melihat orang lain menderita atau sakit, orang yang rakhim akan segera menolongnya[18]. Nama lain Allah Swt yang patut diteladani adalah al-Qudus ( Maha Suci ) seorang hamba akan  suci kalau berhasil membebaskan pengetahuan dan kehendaknya dari khayalan dan segala persepsi yang dimiliki binatang[19].

          Jadi dengan Ilmu Tasawwuf semua persoalan yang berada dalam kajian Ilmu Taukhid terasa lebih bermakna, tidak kaku, akan tetapi lebih dinamis dan aplikatif. 


[1] . William L. Resee mengatakan bahwa filsafat itu berasal dari kata Yunani Philos dan Sophia. Philos artinya mencintai ( terhadap ) ; dan Sophia artinya Wisdom ( kebijaksanaan ). Filsafat diartikan juga dengan sahabat pengetahuan. Selanjutnya Ia mengatakan bahwa pengertian filsafat pada mulanya di gunakan oleh Phitagoras yang mengartikan bahwa manusia dapat di kategorikan dalam tiga tipe antara lain : 1 . manusia mencintai kesenangan          ( those who loved pleasure ), 2. manusia mencintai pekerjaan ( those who lpved activity ), dan 3 . manusia yang mencintai kebijaksanaan ( those who loved wisdom ). Menurutnya Wisdom disini adalah The concerned progress toward salvation in religious terms ( sesuatu upaya serius dalam mewujudkan perdamaian sebagaimana dikatakan dalam istilah-istilah agama ) Adapun Socrates menyatakan bahwa peranan filsafat adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep ( the gaining of conceptual clarity ). Lihat William L. Resee ( 1980 ).Op. cit, hal : 431.

[2] . Plato menyatakan bahwa obyek filsafat adalah menemukan kenyataan ( the discovery of realty ) atau kebenaran mutlak ( absolute truth ). Kedua hal itu biasa di kenal dengan istilah dialektika ( dialectic ). Aristoteles menyatakan bahwa pada mulanya filsafat merupakan kebijaksanaan, kemudian menjadi upaya menyelidiki sebab atau latar belakang dan prinsip-prinsip dari segala sesuatu ( concerned with the investigatian of couses and prinsiples of thing ). Prinsip atau unsur pokok disini adalah upaya mengidentifikasi seluruh ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kemanusiaan ( to be identical with the totality of human knowledge ). Aristoteles selanjutnya mengatakan bahwa filsafat yang pertama ( first philosophy ) dinamakan sebagai theology yang kajian utamanya berkenaan dengan sebab terakhir yang dikenal dengan istilah Yuhan ( concerned with ultimate principles and couses, wich includes the idea og god ).

[3] . Musthafa abdul Raziq ( 1959 ). Op. cit, hal : 266; William L. Resee ( 1980 ). Op.cit, hal : 431 ; Abdul Qodir Muhammad ( 1966 ). al-Falsafah ash-Shufiyah fi al-Islam : Massadiruha wa Nadhariyatuha wa Makanuha min             ad-Din wa al-Hayah, Beirut : Dar al-Fikr Multajam ath-Thab wa an-Nayr, hal : 45 ; Abul Wafa al-Ghanimi at-Taftazani ( Terj ) Ahmad Rafi Utsmani ( 1985 ). Sufi dari Zaman ke Zaman, Bandung : Pustaka Salman, hal : 91 – 92. 

[4] . Endang Saifuddin Anshari ( 1990 ). Ilmu Filsafat dan Agama, Surabaya : Bina Ilmu, hal : 174.

[5] . Philip Bob Coek Gove ( ed ) ( 1966 ). Webster’s third New Internasional Dictionary of The English Language Uni Bridge, USA : G & C Marvian Company Publishers,    hal : 2. 371.

[6] . Endang Saifuddin Anshari ( 1990 ). Op. cit, hal : 173.

[7] . Titus ( ed ) ( Terj ) H.M. Rosyidi ( 1984 ). Persoalan-persoalan Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang, hal : 237.

[8] . Ibid, hal : 238.

[9] . Ibid, hal : 241.

[10] . Mahdi Ha’iri Yazdi ( Terj ) Ahsin Muhammad ( 1994 ). Ilmu Huduri, Bandung : Mizan, hal : 54 – 56.

[11] . Teologi  rasional memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan jelas dan tegas di sebut dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw, yakni ayat yang qoth’i ( teks yang tidak di interpretasi lagi kepada arti lain, selain arti harfiyah ).
  2. Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak serta memberikan daya yang kuat kepada akal.

[12] . Teologi Tradisional memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut :

a. Terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti dhanni  ( teks mengandung arti lain selain dari arti harfiyahnya ).

b. Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat.

c. Memberikan daya yang kecil pada akal.

[13] . Di sebut juga dengan tasawuf sunni atau akhlaki, yaitu bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan al-Qur’an dan al-Hadits secara ketat, serta mengaitkan ahwal ( keadaan ) dan maqamat ( tingkatan rohaniyah ) mereka kepada dua sumber tersebut. Baca Amin Syukur ( 1994 ). Rasionalisme dalam Tasawuf, Semarang : IAIN Wali Songgo,                   hal : 22.

[14] . Di sebut juga dengan tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat kompromi dalam pemakaian term-term filsafat yang maknanya di sesuaikan dengan tasawuf. Oleh karena itu, tasawuf yang berbau filsafat tidak sepenuhnya dapat di katakan tasawuf ; dan juga tidak dapat sepenuhnya di katakan sebagai filsafat. Ibid,

[15] . Said Hawwa ( Terj ) Khairul Rafi’ dan Ibnu Thoha Ali ( 1997 ). Tarbiyatur ar-Ruhiyah, Bandung : Mizan, hal : 67.

[16] . Depag, RI ( 1982 ). Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemah                                      Al- Qur’an, l : 848.

[17] . Said Hawwa ( Terj ) Khairul Rafi’ dan Ibnu Thoha Ali ( 1997 ). Op. cit,     hal : 68.

[18] . al-Ghozali ( Terj ) Ilyas Hasan ( 1998 ). al-Maqhad al-Asma fi Syarh  al-Asma Allah al-Husna, Bandung : Mizan, hal : 73 – 74.

[19] . Ibid, hal : 80.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: