2. Ilmu Kalam

Juni 28, 2010

3. Dasar-dasar normatif ( al-Qur’an dan hadits ) dan penalaran filosofis tentang hakekat keimanan

          Mengkaji aliran-aliran Ilmu Kalam pada dasar merupakan upaya memahami kerangka berfikir dan proses pengambilan keputusan para ulama aliran teologi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kalam. Pada dasarnya potensi yang dimiliki setiap manusia baik berupa potensi biologis maupun potensi psikologis-secara natural adalah sangat distingtif. Oleh sebab itu, perbedaan kesimpulan antara satu pemikiran dan pemikiran lainnya dalam mengkaji suatu obyek tertentu merupakan suatu hal yang bersifat natural pula.

          Syekh Waliyullah Ad-Dahlawi pernah mengatakan bahwa para shahabat dan thabi’in biasa berbeda pendapat dalam mengkaji suatu masalah tertentu. Beberapa indikasi yang menjadi pemicu perbedaan pendapat di antara mereka adalah terdapat beberapa shahabat yang mendengar ketentuan hukum yang diputuskan oleh Nabi Saw, sementara yang lain nya tidak. Shahabat yang tidak mendengar keputusan itu lalu berijtihad. Dari sini kemudian terjadi perbedaan pendapat dalam memutuskankan suatu ketentuan hukum[1].

          Mengenai sebab-sebab pemicu perbedaan pendapat Syekh Waliyullah Ad-Dahlawi tampaknya lebih menekankan aspek subyek pembuat keputusan sebagai pemicu perbedaan pendapat. Penekanan serupapun pernah dikatakan oleh Imam Munawir bahwa perbedaan pendapat di dalam Islam lebih dilatar belakangi adanya beberapa hal yang menyangkut kapasitas dan kredibilitas seseorang sebagai figur pembuat keputusan[2].

          Lain lagi dengan apa yang dikatakan oleh Umar Sulaiman  Asy-Syaqar, ia lebih menekankan aspek obyek keputusan sebagai pemicu terjadinya perbedaan pendapat. Menurutnya ada tiga persoalan yang menjadi obyek perbedaan pendapat yaitu persoalan keyakinan ( aqidah ), persoalan Syari’ah dan persoalan Politik[3].

          Bertolak dari ketiga pandangan tersebut diatas, perbedaan pendapat di dalam masalah obyek teologi sebenarnya berkaitan erat dengan cara  ( metode ) berfikir aliran-aliran Ilmu Kalam dalam menguraikan obyek pengkajian                  ( persoalan-persoalan kalam ). Perbedaan metode berfikir secara garis besarnya dapat dikategorikan menjadi dua macam yaitu “ metode berfikir rational “ dan  “ metode berfikir tradisional “.

          Metode berfikir rational ini memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut[4] :

a. Hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan jelas dan tegas disebut dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yakni ayat yang qoth’i ( teks yang tidak di interprestasikan lagi kepada arti lain selain arti harfiyah ).

b. Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak serta memberikan daya yang kuat kepada akal.

 Adapun metode berfikir tradisional memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti dhonni  ( teks yang boleh mengandung arti selain dari arti harfiyahnya ).

2. Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat.

3. Memberikan daya yang kecil kepada akal.

Metode berfikir kedua macam tersebut diatas terutama yang menyangkut peranan akal dan wahyu dapat di gambarkan sebagai berikut[5] :

A. Kerangka berfikir teologi rational tentang peranan akal dan wahyu

        B. Kerangka berfikir teologi tradisional tentang peranan akal dan wahyu

          Gambar pertama memperlihatkan bahwa “ teologi rational “ memberikan peran yang sangat besar terhadap akal, sehingga dalam pandangan teologi ini akal dapat mengetahui Tuhan ( MT ), kewajiban mengetahui Tuhan     ( KMT ), mengetahui baik dan jahat ( MBJ ) serta kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jahat ( KMBJ ). Sedangkan gambaran yang kedua memperlihatkan bahwa “ teologi tradisional “ memberikan peranan yang kecil terhadap akal. Dari keempat hal yang telah disebutkan diatas tadi hanya mengetahui Tuhanlah yang dapat dijangkau oleh akal ( MT ) selebihnya diketahui oleh wahyu.

Aliran teologi yang sering disebut-sebut memiliki cara berfikir rational adalah “ Mu’tazilah “ , oleh karena itu Mu’tazilah lebih dikenal sebagai    “ aliran yang bersifat rational dan liberal “. Sedangkan teologi yang sering disebut-sebut memiliki metode berfikir tradisional adalah “ Asy’ariyah “.

Disamping pengategorian teologi rational dan teologi tradisional tersebut diatas, juga dikenal pula pengkategorian akibat adanya perbedaan kerangka berfikir dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kalam antara lain[6] :

a. Aliran Antrosentris :

Aliran Antrosentris menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat introkosmos dan impersonal. Ia berhubungan erat dengan masyarakat kosmos, baik yang natural maupun yang supra natural dalam arti unsur-unsurnya. Manusia adalah anak kosmos, unsur supra natural dalam diri nya merupakan sumber kekuatannya dan tugas manusia adalah melepaskan unsur natural yang jahat. Dengan demikian, manusia harus mampu mengupas kepribadian kemanusiaan nya untuk meraih kemerdekaan dari lilitan naturalnya. Orang yang tergolong dalam kelompok ini berpandangan negatif terhadap dunia karena menganggap keselamatan dirinya terletak pada kemampuannya untuk membuang semua hasrat dan keinginannya. Sementara ketaqwaan nya lebih di orientasikan kepada praktek-praktek pertapaan dan konsep-konsep magis. Tujuan hidupnya bermaksud menyusun kepribadiannya ke dalam realita impersonalnya[7].

Fazlur Rahman Anshari menganggap manusioa berpandangan antroposentris sebagai sufi adalah mereka yang berpandangan mistis dan statis. Pada hal manusia antroposentris sangat dinamis karena menganggap hakikat relitas transenden yang bersifat intrakosmos dan impersonal dating kepada manusia dalam bentuk daya sejak manusia lahir. Daya itu berupa potensi yang menjadikan mampu membedakan “ mana yang baik “ dan “ mana yang jahat “. Manusia yang memilih “ kebaikan “ akan memperoleh keuntungan melimpah ( surga ), sedang manusia yang memilih “ kejahatan “ ia akan memperoleh kerugian melimpah pula ( neraka ). Dengan dayanya, manusia mempunyai kebebasan mutlak tanpa campur tangan realitas transenden. Aliran teologi yang termasuk dalam kategori ini adalah “ Qodariyah “, “ Mu’tazilah “ dan  “ Syi’ah “ . 

b Aliran Teolog Teosentris :

Aliran Teolog Teosentris menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat supra kosmos, personal dan Ketuhanan. Tuhan adalah pencipta segala sesuatu yang ada di kosmos ini, ia dengan segala kekuasaan Nya mampu berbuat apa saja secara mutlak. Sewaktu-waktu ia dapat muncul pada masyarakat kosmos. Manusia adalah ciptaan Nya sehingga harus berkarya hanya untuk Nya. Di dalam kondisinya yang serba relatif diri manusia adalah migran abadi yang segera akan kembali kepada Tuhan untuk itu manusia harus mampu meningkatkan keselarasan dengan realitas tertinggi dan transenden melalui ketaqwaan. Dengan ketaqwaan nya, manusia akan memperoleh kesempurnaan yang layak sesuai dengan naturalnya. Dengan kesempurnaan itu pula, manusia akan menjadi sosok yang ideal, yang mampu memancarkan atribut-atribut Ketuhanan dalam cermin dirinya. Kondisi semacam inilah yang pada saatnya nanti akan menyelamatkan nasibnya di masa yang akan datang[8].

Manusia teosentris adalah manusia yang statis karena sering terjebak dalam kepasrahan mutlak kepada Tuhan dan sikap kepasrahan itu menjadikan ia tidak mempunyai pilihan. Bagi nya, segala perbuatan pada hakikatnya adalah aktivitas Tuhan. Ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali apa yang telah ditetapkan Tuhan. Dengan cara itu Tuhan menjadi penguasa mutlak yang tidak dapat diganggu-gugat, Tuhan dapat saja memasukkan manusia jahat ke dalam keuntungan yang melimpah ( surga ). Begitu pula, Dia dapat saja memasukkan manusia yang taat ke dalam situasi serba rugi yang terus menerus    ( neraka ).

Aliran Teolog Teosentris menganggap daya yang menjadi potensi perbuatan baik atau jahat manusia bias dating sewaktu-waktu dari Tuhan. Oleh sebab itu, adakala nya manusia mampu melaksanakan suatu perbuatan tatkala ada daya yang dating kepada nya. Sebaliknya, ia tidak mampu melaksanakan sesuatu perbuatan apapun tatkala tidak ada daya yang datang kepada nya. Bahkan, manusia dapat di katakana tidak mempunyai daya sama sekali terhadap segala perbuatan nya. Dan aliran teologi yang tergolong dalam kategori ini adalah  “ Jabariyah “.

c. Aliran Konvergensi atau Sintesis : 

Aliran Konvergensi atau Sintesis menggangap hakikat realitas transenden bersifat supra sekaligus intrakosmos, personal dan impersonal, lahut dan nashut, makhluk dan Tuhan, sayang dan jahat, lenyap dan abadi, tampak dan abstrak dan sifat lain yang dikotomik. Ibnu Arabi menamakan sifat- sifat semacam ini dengan “ insijam al-azali “ ( prestabished harmony )[9]. Aliran ini memandang bahwa manusia adalah “ tajalli “ atau cermin asma dan sifat-sifat realitas mutlak itu. Bahkan seluruh alam ( kosmos ) termasuk manusia juga merupakan cermin asma dan sifat-sifat Nya yang beragam. Oleh sebab itu eksistensi kosmos yang dikatakan sebagai penciptaan pada dasarnya adalah penyingkapan asma dan sifat-sifat Nya yang azali.

          Aliran Konvergensi atau Sintesis memandang bahwa pada dasarnya, segala sesuatu itu selalu berada dalam ambigu ( serba ganda ), baik secara substansial maupun formal. Secara substansial, sesuatu mempunyai     nilai-nilai batin, huwiyah dan eternal ( qodim ) karena merupakan gambaran al-Haq. Dari sisi ini, sesuatu tidak dapat di musnahkan, kecuali atas kehendak Nya yang mutlak. Secara formal, sesuatu mempunyai nilai-nilai zhahiri, inniyah dan temporal ( huduts )karena merupakan cermin al-Haq. Dan dari sisi ini, sesuatu dapat di musnahkan kapan saja karena sifat makhluk adalah profan dan relatif. Eksistensi nya sebagai makhluk adalah mengikuti “ sunnatullah “ atau  “ natural law “ ( hukum alam ) yang berlaku.

          Aliran ini berkeyakinan bahwa hakikat daya manusia merupakan proses kerja sama antara daya yang transendental ( Tuhan ) dalam bentuk kebijaksanaan dan daya temporal ( manusia ) dalam bentuk tehnis. Dampaknya, ketika daya manusia tidak tidak berpartisipasi dalam proses peristiwa yang terjadi pada dirinya, daya yang transendental yang memproses sesuatu peristiwa yang terjadi pada dirinya. Oleh karena itu, ia memperoleh pahala atau siksaan dari Tuhan. Sebaliknya, ketika terjadi suatu peristiwa pada dirinya sementara ia sendiri telah berusaha melakukannya, maka pada dasarnya kerja sama harmonis antara daya transcendental dan daya temporal. Konsekwensinya, manusia akan memperoleh pahala atau siksaan dari Tuhan, sebanyak andil temporal nya dalam mengaktualkan peristiwa tertentu.

          Kebahagiaan bagi para penganut Aliran Konvergensi atau Sintesis terletak pada kemampuan nya membuat pendulum agar selalu berada tidak jauh ke kakanan atau kekiri, tetapi tetap ditengah-tengah antara berbagai ekstrimitas. Dilihat dari sisi ini, Tuhan adalah sekutu manusia yang tetap atau lebih luas lagi bahwa Tuhan adalah sekutu makhluk Nya, sedangkan makhluk adalah sekutu Tuhan Nya. Ini karena, baik manusia atau makhluk merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan sebagaimana keterpaduan antara dzat Tuhan dan asma serta sifat-sifat Nya. Kesimpulannya, kemerdekaan berkehendak manusia yang profane selalu berdampingan dengan “ determinisme transendental “ Tuhan yang sacral dan menyatu dalam daya manusia. Aliran teologi yang dapat di masukkan ke dalam kategori ini adalah Asy’ariyah.

d. Aliran Nihilis :

           Aliran ini menganggap bahwa hakikat realitas transendental hanyalah ilusi. Aliran ini pun menolak Tuhan yang mutlak, tetapi menerima berbagai variasi Tuhan kosmos. Manusia hanyalah bintik kecil dari aktivitas mekanisme dalam suatu masyarakat yang serba kebetulan. Kekuatan terletak pada kecerdikan diri manusia sendiri sehingga mampu melakukan yang terbaik dari tawaran yang buruk. Idealnya, manusia mempunyai kebahagiaan yang bersifat fisik, yang merupakan titik sentral perjuangan seluruh manusia[10].


[1] . Sebagai contoh adalah peristiwa hajinya Rosulullah Saw dengan sebagian para sahabatnya. Sebagian sahabat menganggap bahwa memperpanjang pelaksanaan thowaf, sebagaimana yang mereka saksikan dari Nabi Saw, termasuk perbuatan sunnah. Sementara itu sebagian sahabat merasa ragu-ragu atau bimbang dalam menentukan persoalan ini. Lihat Waliyullah ad-Dahlawiy ( 1978 ). Al-Inshaf fi Bayan Asbab al-Ikhtilaf, Beirut : Dar an-Nafis, hal : 15-30.

[2] . Imam Munawir pada tulisannya yang lain mencoba menganalisis bahwa latar belakang terjadinya perbedaan pendapat adalah adanya salah satu dari 10 ( sepuluh ) hal yang riskan konflik. Kesepuluh hal itu antara lain : 1) Pola Kepemimpinan ( Patten of Leadership ),    2) Sentimen Kesukuan ( Ethnic Group sentiment ), dan Membangun Keturunan, 3) Perbedaan Status dan Posisi ( Strata Sosial ), 4) Tingkat Pendidikan ( Educational Lavel ), 5) Kurang memahami Integritas Ajaran Islam, 6) Pengaruh dari alam fikiran, Kepercayaan dan Tradisi,   7) Adanya Penyakit Fir’aunisme, Akuisme, Vested Interest, Sehingga terjadi upaya mementingkan diri sendiri, 8) Pembagian Peranan ( Fungsional Distribution ), 9) Dampak Infiltrasi, dan 10) Dampak Penjajahan. Dan ini dapat di baca pada bukunya Imam Munawir ( 1985 ). Mengapa Umat Islam Dilanda Perpecahan, Surabaya : Bina Ilmu, hal : 38 – 43. Juga dapat dibaca pada bukunya Imam Mawardi yang lainnya ( T.th ). Asas-asas Kepemimpinan Dalam Islam, Surabaya : Usaha Nasional, hal : 39 – 92.

[3] . Umar Sulaiman al-Asyaqar ( Terj ) Abu Fahmi ( T.th ). Mengembalikan Citra dan Wibawa Umat : Perpecahan, Akar Masalah dan Solusinya, Jakarta : Wacana Lazuardi Amanah, hal : 39 – 55.

[4] . Yunan Yusuf ( 1990 ). Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar, Jakarta : Panjimas, hal : 16 -17.

[5] . Harun Nasution ( 1986 ). Op. cit, hal : 86 – 87.

[6] . Muhammad Fazlur Rahman Anshari ( Terj ) Juniarso Ridwan dkk ( 1984 ). Konsepsi Masyarakat Islam Modern, Bandung : Risalah, hal : 92.

[7] . Ibid, hal : 92.

[8] . Ibid, hal 92.

[9] . Asy-Syaikh al-Akbar Muhyi ad-Din bin Arabi ( T. th ). Fushush al-Hikam Komentar AR Nichplson, II, hal 22.

[10] . Ibid, hal : 92.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: