2. Ilmu kalam

Juni 28, 2010

1. Sejarah timbulnya Ilmu Kalam

          Persoalan yang pertama-tama timbul dalam Islam menurut sejarah bukanlah persoalan tentang keyakinan ( aqidah ) akan tetapi persoalan politik[1] yang pada akhirnya meningkat menjadi persoalan teologi[2] ( kalam ) dan kemunculan persoalan kalam ini dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Ustman bin Affan ra yang berbuntut pada penolakan Mu’awiyah bin Abi Sufyan atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ra. Ketegangan antara Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Ali bin Abi Thalib ra mengkristal menjadi Perang Siffin yang berakhir dengan keputusan tahkim ( arbitrase ). Sikap Ali bin Abi Thalib ra yang menerima tipu muslihat Amr bin al-Ash utusan dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan dalam tahkim, sungguhpun dalam keadaan terpaksa, tidak di setujui oleh sebagian tentaranya. Mereka berpendapat bahwa persoalan yang terjadi saat itu tidak dapat di putuskan melalui tahkim. Putusan hanya datang dari Allah Swt dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-Qur’an .  لاَ حُكْمُ اِلاَّ اللَّهِ ( tidak ada hukum selain dari hukum Allah Swt ) atau لاَ حُكْم اِلَى اَللَّهَ( tiada perantara selain Allah Swt ) yang menjadi semboyan mereka. Mereka memandang Ali bin Abi Thalib ra telah berbuat salah sehingga mereka meninggalkan barisannya. Dalam sejarah Islam mereka terkenal dengan nama :  ” Khawarij ” yaitu orang yang keluar dan memisahkan diri ( Kharaju ) atau secerders[3] .

           Di luar pasukan yang membelot Ali bin Abi Thalib ra, ada pula sebagian besar yang tetap mendukung Ali bin Abi Thalib ra. Mereka inilah yang kemudian memunculkan kelompok Syi’ah. Menurut W. Montgomery Watt, Syi’ah muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali bin Abi Thalib ra dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang di kenal dengan Perang Siffin. Sebagai respon atas penerimaan Ali bin Abi Thalib ra terhadap arbitrase yang di tawarkan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, pasukan Ali bin Abi Thalib ra terpecah menjadi dua, satu kelompok pendukung sikap Ali bin Abi Thalib ra kelak di sebut Syi’ah dan kelompok lain menolak sikap Ali bin Abi Thalib ra kelak di sebut Khawarij[4] .

          Lebih lanjut persoalan kalam yang pertama kali muncul adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir. Dalam arti siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap dalam Islam. Khawarij sebagaimana telah disebutkan , memandang bahwa orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim ( arbitrase ), yakni Ali bin Abi Thalib ra, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Musa al-Asy’ari  dan Amr bin al-Ash adalah kafir[5] berdasarkan firman Allah Swt surat al-Ma’idah ( 5 ) ayat 44 yang berbunyi :

اِنَّا اَنْزَلْنَا التَّوْرَةَ فِيْهَا هُدًى وَنُوْرٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّوْنَ الَّذِيْنَ اَسْلَمُوْا لِلَّذِيْنَ هَادوْا وَالرَّبَّنِيُّوْنَ وَالاْ َحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوْا مِنْ كِتَبِ اللَّهِ وَكاَنُوْا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلاَ تَخْشَوُاالنَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُوْا بِاَيَتِى ثَمَنًا قَلِيْلاً وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَا اَنْزَلَ اللَّهُ فَاوْلَئِكَ هُمُ الْكَفِرُوْنَ  

Artinya : “ Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya ( ada ) petunjuk dan cahaya ( yang menerangi ), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, ( tetapi ) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir ”[6].

          Persoalan ini telah menimbulkan tiga aliran teologi ( ilmu Kalam ) dalam Islam, yaitu :

1 . Aliran Khawarij, menegaskan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalam arti telah keluar dari Islam, atau tegasnya murtad dan wajib dibunuh.

2 . Aliran Murji’ah, menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa besar masih tetap mukmin dan bukan kafir. Adapun soal dosa yang dilakukannya, hal itu terserah kepada Allah Swt untuk mengampuni atau menghukumnya.

3 . Alran Mu’tazilah, yang tidak menerima kedua pendapat di atas. Bagi mereka, orang yang berdosa besar bukan kafir, tetapi bukan pula mukmin. Mereka mengambil posisi antara mukmin dan kafir, yang dalam bahasa Arabnya terkenal dengan istilah al-manzilah manzilatain ( posisi di antara dua posisi )[7] .

          Dalam Islam, timbul pula dua aliran teologi yang terkenal dengan nama ” Qodariyah ” dan ” Jabariyah ”. Menurut Qodariyah, manusia itu mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya. Adapun Jabariyah, berpendapat sebaliknya bahwa manusia itu tidak mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya[8] .

          Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional mendapat tantangan keras dari golongan tradisional Islam, terutama golongan Hambali, yaitu pengikut-pengikut madzhab Ibnu Hambal. Mereka yang menantang ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisional yang dipelopori oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari ( 935 M ). Disamping aliran Asy’ariyah, timbul pula suatu aliran di Samarkand yang juga bermaksud menentang aliran Mu’tazilah. Aliran ini di dirikan oleh Abu Mansur Muhammad al-Maturidi ( W. 944 M ). Kemudian aliran ini terkenal dengan nama teologi al-Maturudiyah[9] .

          Jadi ketiga aliran tersebut diatas yaitu Khawarij, Murji’ah dan Mu’tazilah sudah tidak mempunyai wujud lagi, terkecuali dalam bentuk sejarah. Sedangkan yang masih ada sampai sekarang adalah aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah yang keduanya di sebut Ahlussunnah Wal Jama’ah


[1] . Harun Nasution ( 1979 ). Islam Ditinjau Dari berbagai Aspeknya, I, Jakarta : UIPress, hal : 92.

[2] . Harun Nasution ( 1979 ). Ibid,II, hal : 31.

[3] .W. Montgomery Watt ( Terj ) Umar Basalim ( 1987 ). Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam, Jakarta : P3M, hal : 10.

[4] . Ibid, hal : 6 – 7.

[5] . Harun Nasution ( 1979 ). Op.cit, II, hal : 31.

[6] . Depag,RI ( 1982 ). Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur’an, hal : 167.

[7] . W. Montgomery Watt ( Terj ) Umar Basalim ( 1987 ). Op.cit,  hal : 8.

[8] . Ibid, hal : 9.

[9] . Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: