3. Filsafat Hukum keluarga Islam

Juni 28, 2010

A. Pengertian Filsafat menurut Etimologi

          Kata filsafat diambil dari bahasa Arab “ falsafat “ atau “ falsafah “. Orang Arab sendiri mengambilnya dari bahasa Yunani : Philosophia. “ Dalam bahasa Yunani kata filosofia itu merupakan kata majemuk yang terdiri dari filo dan sofia “[1]. Kata tersebut dalam bahasa Arab merupakan bentuk mashdar yang diturunkan dari kata “ philosophia[2], dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “ philosophy “. Kata philosophia terdiri dari kata “ philein “ yang berarti cinta = love dan “ sophia “ yang berarti kebijaksanaan = wisdom[3], yang melahirkan kata Inggris “ Philosophy “ biasa nya di terjemahkan sebagai “ cinta kearifan “[4]. Dan ada juga yang berpendapat bahwa falsafah itu berasal dari kata    “ philos “  atau “ philo “ yang memiliki arti cinta, senang, gemar, kekasih, bisa juga diartikan sebagai sahabat sedangkan kata “ sophia “ yang memiliki arti sebagai kebijaksanaan atau kearifan atau kebenaran[5]. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa falsafah itu berasal dari kata “ phila “ yang memiliki arti mengutamakan, lebih menyukai atau pecinta sedangkan kata “ sophos “ yang memiliki arti hikmah atau kebijaksanaan[6] dan ada juga mengatakan bahwa falsafah itu berasal dari kata “ filosofia “ dalam bahasa Yunani, kata tersebut merupakan kata majemuk terjadi dari kata “ filo “ yang berarti cinta dalam arti seluas-luasnya, sedangkan kata “ sofia “ yang berarti pandai, tahu dengan mendalam[7]. Maka dari itu kata falsafah merupakan hasil Arabisasi suatu mashdar yang berarti kerja atau pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dengan demikian secara etimologis berfilsafat itu berarti mencinta kebijaksanaan ( love of wisdom ) dalam arti yang sedalam-dalamnya dan cinta disini tidak hanya berarti menyukai tetapi juga memiliki, sedangkan pelakunya disebut philosophos dalam bahasa Arab disebut dengan failasuf atau al-hakim dan dalam bahasa Indonesia disebut filusuf, dalam bahasa Latin disebut philosophia. dalam bahasa Belanda dan Jerman disebut philosophie. Seorang pecinta kepada Ilmu Pengetahuan adalah orang yang menjadikan Ilmu Pengetahuan itu sebagai usaha dan tujuan hidupnya atau dengan kata lain orang yang selalu mengabdikan dirinya kepada Ilmu Pengetahuan[8]. Orang yang demikian ini disebut philosophia atau failasuf atau al-hakim dan filusuf  yaitu seorang yang mencintai kebenaran sehingga berupaya untuk memperoleh dan memilikinya atas kebenaran itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan filsafat disini adalah philoshophy as love of wisdom artinya : “ mencintai kebijaksanaan atau sahabat Ilmu Pengetahuan atau mempunyai pengertian yang mendalam dan kebenaran “[9].

          Pada dasarnya belajar filsafat adalah sebuah proses mempelajari aktivitas berfikir manusia, bahkan filsafat adalah aktivitas berfikir itu sendiri[10], artinya dengan pembuktian yang dapat diterima oleh akal dengan  susun-menyusun serta hubung-menghubung secara bertanggung jawab dan hasil dari pembuktian itu dinamakan “ filsafat “[11].

          Kata filsafat pertama kalinya dalam sejarah dipergunakan oleh Pythagoras abad ke-6 SM tepatnya pada tahun  582-496 Sebelum Masehi, artinya filsafat pada saat itu belum begitu jelas, kemudian pengertian filsafat itu diperjelas seperti halnya yang banyak dipakai sekarang ini pertama kali dipergunakan oleh kaum sophist, Socrates dan Plato abad ke -5 SM tepatnya pada tahun 470 -399 Sebelum Masehi nama “ filsafat “ dan “ filsuf “ sudah lazim dipakai[12]. Sebenarnya sebelum Socrates mempopulerkan nama filsafat ada satu kelompok yang menyebut dirinya kaum sophis ( sophist ) yang berarti para cendekiawan. Mereka menjadikan persepsi manusia sebagai ukuran  ( kebenaran, hakikat ) dan menggunakan hujah-hujah yang keliru dalam  kesimpulan-kesimpulan mereka. Sehingga secara bertahap kata          “ sophis “   ( sophist, sophistes ) itu kehilangan arti aslinya dan kemudian menjadi arti seseorang menggunakan               hujjah-hujjah yang keliru. Dengan demikian, kita mempunyai istilah menjadi “ sophistry “ artinya cara berfikir yang menyesatkan, dan mempunyai asal kata yang sama dalam bahasa Arab dengan kata “ safsathah “ . Sockrates, karena kerendahan hati dan mungkin juga keinginan untuk menghindarkan pengidentifikasian dengan kaum Sophis melarang orang yang menyebut dirinya seorang sophis, seorang cendekiawan. Oleh karena itu, Sockrates menyebut dirinya adalah seorang filosof ( philosophos ), pecinta kebijaksanaan, pecinta kebenaran, menggantikan sophists yang berarti sarjana, dan gelaran yang terakhir ini merosot derajatnya menjadi orang yang menggunakan penalaran yang salah sehingga filsafat ( philosophia ) di kemudian hari menjadi sama artinya dengan kebijaksanaan ( kearifan ) oleh karena itu filosof ( philosophos ) sebagai satu istilah tehnis yang tidak dipakai pada seorang sebelum Sockrates[13]. Sebagai protes kesombongan mereka Sockrates lebih suka menyebut dirinya “ pecinta kebijaksanaan “ artinya orang yang ingin mempunyai pengetahuan yang luhur ( Sophia ) itu. Mengingat keluhuran pengetahuan yang dikerjakannya itu maka Sockrates tak mau berkata bahwa ia telah mempunyai, memiliki atau menguasainya[14].

          Dari pengertian filsafat atas secara etimologi dapat di artikan sebagai :

1 . Cinta kepada kebijaksanaan ( love of wisdom ).

2 . Cinta kepada kepandaian atau Ilmu Pengetahuan.

3 . Cinta kepada kebenaran.

4 . Keinginan yang mendalam untuk mencari atau mendapatkan kebijaksanaan, kebenaran,kepandaian atau Ilmu Pengetahuan.

5 . keinginan untuk pandai, bijak dan yang sejenisnya[15].


[1] . Endang Saifuddin Anshari ( 1992 ). Kuliah al-Islam, Jakarta : Rajawali,      hal : 19.

[2] . Murtadha Muthahari ( Terj ) A. Rifa’I Hasan dan Yuliani ( 1993 ). Tema-tema Penting Filsafat Islam, Bandung Yayasan Muthahari, hal : 11, Hasbullah Bakry  ( 1981 ). Sistimatik Filsafat, Jakarta : Wijaya, hal : 7.

[3] . Lasiyo dan Yuwono ( 1985 ). Pengantar Ilmu Filsafat, Jogyakarta : Liberty, hal : 1, Suparlan Suharto ( 2005 ). Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jogyakarta : Ar-Ruzz, hal : 42,  Surajiyo ( 2005 ). Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta : Bumi Aksara, hal : 1,  Sutardjo A. Wiramihardja ( 2006 ). Pengantar Filsafat, Bandung : Refika Aditama, hal : 9, E. Sumaryono  ( 1994 ). Pengantar Filsafat, Jogyakarta : Universitas atma Jaya, hal : 7, Wajiz Anwar ( 1979 ). Nilai Filsafat Dalam Dunia Modern Dewasa ini, Bandung : Alumni, hal : 24.  

[4] . The Liang gie ( Terj ) Ali Mudhofir ( 1979 ). Suatu Konsepsi Kea rah Penerbitan Bidang Filsafat, Jogyakarta : Karya Kencana, hal : 5.

[5] . Murtadha Muthahari ( Terj ) A. Rifa’I Hasan dan Yuliani ( 1993 ). Op. cit,  hal : 11, Mas Soebagio dan Slamet Supriatna ( 1992 ). Dasar-dasar Filsafat suatu Pengantar ke Filsafat Hukum, Jakarta : Akademika Presindo, hal : 11, Inu Kencana Syafi’i ( 2004 ). Pengantar Filsafat, Bandung : Refika Aditama, hal : 1, Jan Hendrik Rapar ( 1996 ). Pengantar Filsafat, Jogyakarta : Kanisius, hal : 14. Hasan Bakti Nasution ( 2001 ). Filsafat Umum, Jakarta : Gaya Media Pratama, hal : 1.

[6] . K. Bertens ( 1999 ). Sejarah Filsafat Yunani, Jogyakarta : Kanisius, hal : 17, G.W. Bawengan ( 1983 ). Sebuah Studi Tentang Filsafat, Jakarta : Pradnya Paramita, hal : 7.

[7] . Poedjawijatna ( 1980 ). Membimbing kearah Filsafat, Jakarta : Pembangunan, hal : 1, Asmoro Ahmadi ( 2001 ). Filsafat Umum, Jakarta : Raja Grafindo Persada, hal : 1.

[8] . A. Masykur Anhari ( 1992 ). Filsafat Sejarah dan Perkembangannya dari Abad ke Abad, Jakarta : Karya Remaja, hal : 5.

[9] . Abdul Rozak dan Isep Zainal Arifin ( 2002 ). Filsafat Umum, Bandung : Gema Media Pusakatama, hal : 23.

[10] . Muhammad Muslih ( 2005 ). Filsafat Umum Dalam Pemahaman Praktis, Jogyakarta : Belukar, hal : 11.

[11] . M.J. Langeveld ( Terj ) G.J. Claessen ( 1955 ). Menuju Kepemikiran Filsafat, Jakarta : Pembangunan, hal : 9-10.

[12] . Lasiyo dan Yuwono ( 1985 ). Op.cit, hal : 1,  K. Bertens ( 1999 ). Op.cit,    hal : 17-18 dan Jan Hendrik Rapar ( 1996 ). Loc.cit.

[13] . Murtadha Muthahari ( Terj ) A. Rifa’i Hasan dan Yuliani ( 1993 ). Op. cit,  hal : 11-12.

[14] . Burhanuddin Salam ( 2005 ). Pengantar Filsafat, Jakarta : Bumi Aksara,    hal : 46-49.

[15] . Abdul Rozak dan Isep Zainal Arifin ( 2002 ).  Op.cit,  hal : 7-8.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: